Advertisement

Bantu kami dalam membangun Blog ini dengan mengklik Iklan dibawah. 1 Klik saja sangat berarti bagi kami. Terima Kasih











Minggu, 28 Juni 2015

Balap Karung GP



Matahari mulai menampakkan sinarnya. Kicauan burung seolah memanggilku untuk segera bangun dari mimpi nakalku. “Kriiing” alarm handphone ku berbunyi dengan kerasnya di samping telinga. Lekaslah pada saat itu aku terbangun seraya berkata “Gottverdammt”. Aku pun lalu mematikan alarm tersebut dan tak sengaja melihat ke layar handphone ku kalau ternyata sekarang tanggal 17 Agustus. Yah.. biasanya pada tanggal tersebut setiap warga Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan dengan mengadakan lomba-lomba yang seru, salah satunya di daerah tempat tinggalku.

            Aku pun bergegas diri dan bersiap untuk mengisi Agustusan tersebut dengan mengikuti berbagai lomba. Banyak lomba yang dipertandingkan. Ada lomba makan kerupuk, joget dengan balon, memasukkan belut, pukul kendi, panjat pinang, dll. Tapi ada lomba yang menarik perhatianku pada saat itu, yaitu Balap Karung GP. Emang sih namanya agak sedikit aneh. Udah kaya balapan motor yang di TV aja, haha.
            Balap Karung GP ini sama seperti balap karung yang biasanya dilakukan saat agustusan. Hanya saja sirkuitnya cukup jauh –cielah sirkuit-. Aku pun mendaftarkan diri untuk mengikuti balapan tersebut. Aku mendatangi panitia tersebut dan menuliskan identitasku di sebuah buku yang ada di meja panitia tersebut. Pada saat itu baru 10 orang yang daftar dan dilihat-lihat “Ebuset dah,” (dengan logat betawi)  sempat terkejut juga pada saat itu ada beberapa finalis perempuan ikut balapan ini juga. Wah wah kalo sampai kalah harga diri mau diletakkan dimana coy!

            Kebetulan waktu itu aku mendapat giliran ronde kedua. Aku pun mengajak teman-temanku Fariz dan Rizky untuk mengikuti event ini. Temanku, Fariz, tadinya tidak mau ikut. Karena menurut dia cuma bikin pegel kaki doang. Memang benar apa yang dikatakan Fariz tetapi pada kenyataannya nih anak memang tidak pernah mengikuti lomba-lomba agustusan ini. Maklumlah anak mami papi bawaannya pasti selalu males. Berbeda dengan Rizky, walaupun anak mami papi juga tapi dia mau ikut kalau diajak (Ingat: Kalau diajak).
***

            Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Giliran ronde kedua yang akan balapan yaitu giliranku. Aku pun masuk kedalam karung. Awalnya sih merasa pede ikut lomba ini. Eh pas di TKP ternyata “Dag Dig Dug Der!” serasa jantung dipukul oleh Travis Barker layaknya drum milik dia sendiri karena di sepanjang tepi jalan terhampar masyarakat yang antusias ingin melihat lomba tersebut. Dengan wajah keringatan dan mencoba untuk tenang dengan mengambil napas pelan-pelan seraya berdoa. Akhirnya rasa gugup itu hilang. Pluit start pun berbunyi “Priitt” semua finalis loncat-loncatan seperti pocong yang kepanasan dengan muka berkeringat. Ada salah satu finalis mengalami kecelakan. Maksudnya dia tabrakan dengan finalis lainnya dan keluar dari lintasan. Ada pula yang kehabisan bensin (haus) sehingga dia perlu diisi ulang alias minum didalam lintasan.

            Aku terus meloncat dan meloncat seperti tomcat yang sedang dapet undian dengan muka kaya orang sedang poop di toilet. “Aduh sial cape banget, Where’s the water? Where!!!” ujarku dalam hati. Akhirnya tidak jauh dari tempatku berada. Ada tempat peristirahatan, disitu aku minum 3 gelas susu coklat dan lanjut melompat-lompat. Aku pun terus melompat dan melompat hingga akhirnya melihat garis finish. Aku yang pada saat itu berebut posisi pertama dengan salah satu finalis yang tampangnya maho eh maaf macho tersebut berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai garis finish. Hingga kami berdua  adu body dan berakhir dengan kemenangan si macho tersebut dan luka kecil pada lengan kiri ku.

            Yah.. itulah perlombaan. Ada yang menang dan ada yang kalah. Jangan beranggapan remeh pada suatu hal yang kita belum ketahui apa itu. Kita harus berpikir bagaimana caranya kita bisa melakukannya dengan baik dan kita sendiri enjoy dengan hal itu. Jangan juga terlalu memaksa diri untuk memenangkan suatu perlombaan. Kita sudah menampilkan yang terbaik itu sudah jauh lebih dari cukup. Ingat! Pemenang Sejati adalah dia yang mampu menerima kekalahannya dan dapat menampilkan yang terbaik yang dia bisa. Itu..

2 komentar:

  1. Yeah! that the point! Bisa menerima kekalahan. Bisa menerima kemenangan. Mohon maaf lahir dan batin ya, mas ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba.. mohon maaf lahir batin juga :)

      Hapus

Comment please and Don't promote your blog in this comment OK! ;)

Hi guys.. welcome to my blog. In this blog available information for you. hopefully it is useful
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Backlink